Bogor 1881


Tulisan ini bukan akan bercerita tentang kota Bogor pada tahun 1881, tapi akan menuturkan ungkapan kekaguman saya ketika beberapa minggu lalu untuk pertama kali saya menatap gedung vintage berupa stasiun kereta Bogor, yang pada dinding bagian atasnya terukir nama “Bogor” dan angka “1881“.

Rasanya konyol karena baru-baru ini saja saya tahu gedung Bogor 1881 itu, padahal itu bangunan kuno dan saya sering melewati stasiun Bogor. Benar-benar memalukan!

Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Jadi begini ceritanya…

Stasiun Bogor bagi saya merupakan stasiun transit, dari kereta yang saya tumpangi dari Sukabumi kemudian berpindah ke kereta rel listrik (KRL) atau lebih dikenal dengan sebutan KRL Commuter Line, yang akan mengantarkan saya ke tempat-tempat yang saya tuju.

Sebelumnya, stasiun kereta terakhir dari Sukabumi di stasiun Paledang. Dari stasiun Paledang saya jalan kaki, menyeberang jalan, dan memasuki stasiun Bogor melalui pintu barat.

Ternyata belakangan telah terjadi perubahan. Kini stasiun kereta terakhir dari Sukabumi tidak lagi di stasiun Paledang tapi di stasiun Bogor. Perubahan inilah yang menyebabkan untuk pertama kalinya saya melewati, menatap dan mengagumi gedung kuno stasiun Bogor, Bogor 1881.

Stasiun Bogor, pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda bernama Station Buitenzorg, awalnya hanya merupakan terminal pemberhentian terakhir untuk jalur kereta api dari Batavia (sebutan kota Jakarta pada masa itu) ke Buitenzorg (sebutan kota Bogor pada masa itu) yang beroperasi sejak tahun 1872. Pada tahun 1881 kemudian dibangun gedung Stasiun Bogor untuk menampung jumlah penumpang yang semakin bertambah.

Benar-benar saya terpesona memandang gedung Stasiun Bogor bertuliskan angka 1881 ini. Walaupun saya tidak paham mengenai seni dan arsitektur suatu bangunan, tapi hal itu tidak mengurangi rasa kagum saya akan keindahan gedung ini.

Bogor 1881

Bila kita memasuki Stasiun Bogor dari pintu gerbang depan, maka kita akan masuk ke bagian belakang stasiun. Di bagian belakang stasiun terdapat bangku-bangku bagi para calon penumpang dan ada juga beberapa mini market.

Bagian belakang stasiun tetap masih dengan nuansa vintage, seperti dapat diperhatikan pada model pintu-pintu kayu yang berjejer dan berwarna coklat. Pada dinding bagian atas tertulis Bogor +246M, hal ini menunjukkan bahwa stasiun Bogor berada pada ketinggian 246 M diatas permukaan laut.

Bagian belakang Stasiun Bogor dengan nuansa vintage

Pada laman Wikipedia digambarkan keindahan bangunan stasiun ini dengan kalimat panjang berikut, 

 “Stasiun ini kental dengan nuansa Eropa; kaya akan ornamental geometris seperti awan, kaki-kaki singa, dan relung yang terpengaruh gaya Yunani Klasik dengan unsur simetris dan serba geometris. Gaya bangunan stasiun adalah Indische Empire dengan sentuhan pintu masuk dan lobi utama bergaya Neoklasik.”

Stasiun Bogor tempo doeloe – Dok. Tropenmuseum, part of the National Museum of World Cultures, via Wikipedia

Gedung Stasiun Bogor yang luar biasa indah itu hingga saat ini tetap terawat dengan baik dan tetap mempertahankan bentuk aslinya.

Sejak tahun 2007 Stasiun Bogor ditetapkan sebagai Bangunan Stasiun Cagar Budaya melalui surat keputusan yang dikeluarkan oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia.

Sukabumi, 3 April 2023

Komentar